Inovatif! MTs Laboratorium UIN Bukittinggi Gelar Workshop Kurikulum Berbasis Cinta

BUKITTINGGI – Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan menciptakan lingkungan belajar yang harmonis, MTs Laboratorium UIN Bukittinggi menyelenggarakan Workshop Kurikulum Berbasis Cinta. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini dimulai sejak tanggal 9 hingga 11 Juni 2026, bertempat di aula madrasah.

Workshop ini dirancang untuk membekali para pendidik dengan pendekatan kurikulum yang tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga menyentuh aspek emosional, spiritual, dan humanis siswa melalui pendekatan "berbasis cinta".

Hari Pertama: Kurikulum Cinta, Membangun Madrasah Berkarakter, Berilmu, dan Berprestasi.
Pada hari pertama pelaksanaan (Selasa, 9 Juni 2026), antusiasme peserta yang terdiri dari majelis guru MTs Laboratorium UIN Bukittinggi sudah terlihat sangat tinggi. Hal ini tidak lepas dari kehadiran jajaran narasumber kompeten yang merupakan pakar pendidikan dan akademisi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi.

Para pemateri hebat yang membedah konsep dan implementasi kurikulum ini di antaranya:

  • Dr. Junaidi, S.Ag., M.Pd. – Mengupas tuntas materi mengenai Kebijakan dan Filosofi Kurikulum Berbasis Cinta, memberikan arah dasar bagi madrasah dalam memahami regulasi dan landasan berpikir di balik pendekatan ini.

  • Dr. Wedra Aprison, M.Ag. – Menyampaikan materi tentang Implementasi Kebutuhan Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah, yang berfokus pada langkah-langkah konkret penyusunan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan riil lingkungan madrasah.

  • Dr. Charles, S.Ag., M.Pd.I. – Mengulas materi mengenai Penguatan Karakter dan Budaya Madrasah dalam Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), menekankan pentingnya membangun ekosistem madrasah yang berakhlak mulia dengan fondasi kasih sayang.

Mewujudkan Madrasah yang Nyaman dan Berkarakter
Kepala MTs Laboratorium UIN Bukittinggi menyampaikan bahwa workshop ini merupakan langkah strategis madrasah untuk menjawab tantangan zaman. Pendidikan saat ini tidak boleh kaku; guru diharapkan mampu mengajar dengan hati agar materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh siswa.

"Kurikulum Berbasis Cinta ini bukan berarti mengesampingkan kedisiplinan, melainkan membangun disiplin itu sendiri di atas fondasi rasa saling menghargai, menyayangi, dan memahami potensi unik setiap peserta didik," ujarnya.

Kegiatan workshop ini direncanakan akan terus berlanjut hingga tanggal 11 Juni 2026 dengan agenda penyusunan bahan ajar, simulasi mengajar, dan evaluasi program yang siap diterapkan pada tahun ajaran baru.

0 Komentar